Minggu, 27 April 2014

BAB NIKAH (pengesahan nikah)


PENGESAHAN NIKAH

وفى الدعوى بنكاح على امرأة ذكر صحته وشروطه من نحو ولى وشاهدى عدول

1. Pengakuan perkawinan dengan seorang perempuan harus dapat menyebutkan sahnya perkawinan dahulu dari   umpamanya wali dan dua orang saksi yang adil. (I’anatut Thalibin IV : 254).

فإذا شهدت لها بينة على وقف الدعوى ثبتت الزوجية والإرث                        

2.  Maka jika telah ada saksi-saksi yang menyaksikan atas perempuan itu yang sesuai dengan gugatannya itu, maka tetaplah pernikahannya itu. (Bughyatul Musytarsyidin : 298).

ويقبل إقرار البـالغة العـاقلـة بالنكاح

3.  Diterima pengakuan nikahnya seorang perempuan yang aqil baligh. (Tuhfah IV : 133).

وفى الدعوى بنكاح على امرأة ذكر صحته وشروطه                                 

4.  Didalam dakwa telah nikah kepada perempuan  harus menerangkan sahnya nikah dan syarat-syaratnya. (Fathul Mu’in  IV : 253).

ويجوز نكاح الحامل من الزنا لأن حملها لا يلحق بأحد فوجوده كعدمه                 

5.  Boleh menikah perempuan yang hamil dari zina karena kehamilannya itu tidak dapat dikaitkan kepada siapapun juga, jadi adanya hamil itu seperti tidak hamil. (Al Muhazab II : 210).

ويقبل إقرارالبـالغـة الـعاقلـة على القول اجـديـد                                          

6.  Diterima pengakuan seorang wanita yang sudah baligh dan berakal,bahwa dia telah dinikahi oleh seseorang menurut qaul jaded. (Mughnil Muhtaj II : 140).

           ولوادعت امرأة على رجل النكاح سمعت اخترن بها حق من الحقوق كالصداق والنفقة والميراث أو لم يقترن

    7.        Jika seorang wanita mengaku telah dinikah sah oleh seorang pria, maka dapatlah diterima pengakuannya itu, baik yang berhubungan dengan penuntutan, mahar, nafkah, warisan atau yang tidak berhubungan dengan itu. (Al Anwar II : 146)

وان كان المدعى نكاحا فقد قال الشافعى رحمه الله لايسمع حتى يقول نكحتها بـولى وشاهدين ورضاها

    8.        Jika yang diperkarakan adalah suatu pernikahan, maka Imam Syafi’i telah berkata : Pengakuan itu tidak didengar hingga yang mengaku berkata : Saya telah menikahkannya dengan seorang wali dan dua orang saksi pula dengan keredlaan isteri. (Al Muhazab II : 310)

وان ادعت امرأة على رجل نكاحا فإن كان مع النكاح حق تدعيه من مهر ونفقة سمعت دعواها

    9.        Apabila seorang wanita mengaku adanya hubungan perkawinan dengan seorang laki-laki, jika ada kaitan hak yang dituntutnya seperti mahar atau nafkah, maka gugatannya/pengakuannya diterima. (Al Muhazab II : 310)

ولو قال الرجل فلانة زوجتى ولم يقبل وصدقته المرأة أو المجبر كـفى

    10.    Apabila seorang laki-laki berkata : “Fulanah isteriku”, Dan ia tidak memerinci dan isteri membetulkan kepada kata-kata lelaki itu, atau wali mujbir, maka telah dianggap cukup. (Al Anwar : 461)

ويجوز لقاض تـزوج من قالت انا خليـة عن نكاح وعدة

    11.    Boleh hakim menikahkan perempuan yang mengaku bahwa : Saya bebas dari ikatan perkawinan dan iddah. (I’anatut Thalibin III : 315, 319)

فإن كانت حاملا من زنا أو حملت فى العدة منه انقضت عدتها بمضى الأشهر مع وجوده لأنه لا حرمة له – ولهذا لو نكح حاملا من زنا صح نكاحه قطعا وجاز له وطؤ ها قبل وضعه على الأصح, وجهل حال الحمل هل هو من زنا أو من وطء الشبهة حمل انه من الزنا, كما نقله الشيخان عن الرويانى وبه افتى القفال وجزم صاحب الأنوار, وقال الإمام : يحمل على أنه من وطء الشبهة

    12.    Apabila seorang peempuan hamil karena zina atau hami semasa iddah, maka iddahnya dianggap habis setelah tiga bulan walaupun dia hamil, karena itu tidak haram baginya (mengawini perempuan tersebut). Apabila ia kawin dalam keadaan hamil karena zina, maka perkawinannya sah dan boleh suami menyetubuhnya sebelum dia melahirkan (menurut pendapat yang lebih kuat). Apabila tidak diketahui apakah hamilnya karena zina atau karena persetubuhan syubhat, dianggap hal itu zina. Sebagaimana riwayat Syaikhan dari Ar Rujani, demikian juga fatwa Al Qaffal dan hal ini ditetapkan pula oleh pengarang Al Anwar. Al Imam berkata : Dalam hal itu dianggap dari persetubuhan syubhat, dengan dasar husnudhon (sangkaan yang baik) demikian pula penetapan dari pengarang At Ta’jiz. Dan kompromi dari dua pemikiran tersebut adalah :
        a.        Dianggap dari zina, agar iddahnya tidak tergantung dari kehamilannya.
        b.        Dianggap dari persetubuhan syubhat, agar tidak terkena had. (Al Bajuri II : 169)

يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزانى أو غيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة

    13.    Boleh mengawini orang yang hamil karena zina baik yang berbuat ataupun orang lain, dan boleh juga menyetubuhinya kaetika itu dengan hukum makruh. (Bughyatul Musytarsyidin : 228)

BAB NIKAH (pencegahan & penolakan kawin)


PENCEGAHAN  DAN PENOLAKAN KAWIN

روى عن ابى هريرة عن النبى ص. أنه قال : لايجمع بين المرأة وعمتها ولا بين العمة وخالتها                                                                      

    1.        Tidak boleh dimadu seorang perempuan dengan bibi (saudara perempuan ayah) dan begitu juga antara perempuan dengan bibi ( saudara perempuan ibu). (Ash Shohihain)

يحرم على الرجل أن يجمع فى نكاحه بين المرأة وأختها سواء فى ذلك من الأبوين أو من الأب أو من الأم                                                                

    2.        Haram bagi seorang laki-laki berpoligami antara seorang perempuan dengan saudara perempuannya, baikpun kedua saudara itu seibu sebapak atau sebapak, ataupun seibu saja.(Kifayatul Akhyar III : 36).



والمحصنات من النساء الا ما ملكت ايمانكم كتاب الله عليكم واحل لكم ما وراء ذلكم ان تبتغوا باموالكم محصنين غير مسافحين فما استمتعتم به منهن فاتوهن اجزرهم فريضة ولا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعض الفربضه, ان الله كان عليما حكيما                                                                        

    Begitu juga diharamkan atasmu kawin dengan perempuan yang bersuami kecuali budak-budak perempuan yang kamu punyai (milik yang kamu peroleh sebagai tawanan dari medan pertempuran). Yang demikian itu telah ditentukan Allah, dan dihalalkan kamu mengawini perempuan-perempuan yang lain dari yang tersebut di atas itu, yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban: dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana. (Q.S. An Nisa’ : 24)

إذا طلق الحر امرأته ثلا ثا أو طلق العبد امرأته طلقتين حرمت عليه ولا يحل له نكاحها حتى تنكح زوجا غيره ويطأها                                            

    4.        Apabila seorang merdeka menceraikan isterinya dengan talak tiga, atau seorang hamba menceraikan isterinya dengan talak dua, maka isteri iu haram atasnya dan tidak halal baginya kawin dengan isteri itu, sehingga si isteri itu kawin lagi dengan suami yang lain  dan suaminya yang kedua itu telah mengumpulinya (jima’) pula. (Al Muhadzab II : 112).

الزانى لا ينكح الا زانية او مشركــة والزانية لا ينكحها الا زان او مشرك وحرم ذلك على المؤمنين                                                                       

    Laki-laki yang berzina tidak akan mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak akan mengawininya melainkan laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan bagi orang yang mukmin. (Q.S. An Nur : 3)

 ولا تنكـحوامانكح ابآئـكم من النساء                                               

    6.        Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang elah dikawini oleh ayahmu. (Q.S. An Nisa’ : 22)

حرمت عليكم امهاتكم وبناتكم واخواتكم وعماتكم وخالاتكم وبنات الاخ وبنات الاخت وامهاتكم الاتى ارضعنكم  واخواتكم من الرضاعة وامهات نسائكم وربائبكم الاتى فى حجوركم من نسائكم الاتى دخلتم بهن فان لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم وحلائل ابنائكم الذين من اصلابكم وان تجمعوا بين الاختين الا ما قد سلف ان الله كان غفورارحيما

7.  Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sesusuan: ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaan dari isterimu yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan menghimpun (dalam perkawinan) dua peempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. (Q.S. An Nisa’ : 23).

BAB NIKAH (DISPENSASI KAWIN/IZIN KAWIN & IZIN POLIGAMY


DISPENSASI KAWIN/IZIN KAWIN

يا معشر الشباب من ا ستطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء (رواه البخارى)

    1.         Wahai pemuda, barangsiapa diantara kamu sangup kuasa akan perbelanjaan kawin, dan yang mewajibkannya, maka hendaklah kamu kawin. Sesungguhnya kawin itu dapat menundukkan pandangan mata dan meredakan gelora syahwat. Dan barangsiapa tidak sanggup hendaklah dia berpuasa sebab puasa itu menjadi pengekang baginya. (Mughnil Muhtaj III : 125)

تصرف الامام على الرعية منوط المصلحة

2. Pemerintah mengurus rakyatnya sesuai dengan kemaslahatan (Al Asybah wan Nadzair :128)

وانكحوا الايامى منكم والصالحين من عبادكم وامائكم ان يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم

    3.        Dan kawinkanlah orang-orang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnianya. Dan Allah Maha Luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui. (Q.S : An Nur : 32).

IZIN POLIGAMI

فانكحوا ماطاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم الا تعدلوا فواحدة .

    Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adail, maka (kawinilah) seorang saja. (Q.S. An Nisa’ : 3)

وقد ورد فى الخبر الصحيح : اذا كان عند الرجل امرأتان فلم يعدل بينهما جاء يوم القيامة وشقه مائل او ساقط, وقد كان صلى الله عليه وسلم فى غاية من العدل فى القسم.

    Apabila seorang laki-laki/suami beristeri dua kemudian tidak berlaku adil terhadap keduanya, maka di hari kiamat nanti ia dibangkitkan dalam keadaan miring atau tidak berlambung. Dan adalah Nabi SAW yang seadi;-adilnya dalam keadaanmemberi giliran kepada isteri-isterinya. (Al Hasyiyah Al Bajuri juz III : 366).